Homesick Syndrome

“Wooaa, bumi sangat indah sekali. Bolehkah aku hidup di bumi” Seorang pemuda remaja yang lahir dan dibesarkan di planet mars mengungkapkan keinginannya kepada CEO perusaan antariksa yang menangani program kolonialisasi planet mars. Sang CEO hanya tersenyum “Ini lucu sekali, disaat mereka menginginkan sepertimu hidup di mars.”

Beberapa hari yang lalu di malam yang gerimis nan syahdu, saya menonton sebuah film yang benar-benar mengubah pandangan saya dan seketika mengembalikan tujuan hidup saya. Sebuah film science fiction berjudul The Space Between Us yang becerita tentang manusia pertama yang dilahirkan di planet mars dalam sebuah misi rahasia kolonisasi planet dengan julukan planet merah tersebut. Setelah tumbuh besar anak tersebut kemudian mengunjungi bumi dan melihat betapa indahnya planet yang selama ini baginya hanyalah sebuah dongeng penghantar tidur.

Malam itu semakin larut, hujan pun terus saja bertambah deras. Detik-detik berlalu setelah saya selesai menonton film tersebut. Sahabat saya pascal telah tertidur pulas di ranjangnya sejak tadi. Saya masih terjaga dan termenung memandangi langit-langit kamar.

Hampir semua teman saya disini bisa dikatakan telah terserang wabah homesick. Diantara mereka adalah mereka yang terserang flu. “Gar kamu bisa kerokin badan ku ngga?? sumpah aku hampir mati ini rasanya”, “sorii ngga bisaa.. tapi aku ada tolak angin kalo mau” Jawabku. “Sumpahh gar rasanya tuh aku pingin pulang walaupun cuma sebentar” Ya aku bisa merasakannya nya. Salah satu yang lain adalah mereka yang mendapat kabar bahwa ada keluarga yang sedang dirawat di rumah sakit. Dalam salah satu post di instagram memuat foto sang ibu yang sedang berbaring lemas dengan beberapa orang di sekelilingnya yang sedang menjenguknya. Dalam postnya dia menulis sebuah caption “Tunggu 38 hari lagi ya bu, pokonya harus tetap kuat dan lekas sembuh.” Dan yang paling banyak diantara mereka yang homesick adalah mereka yang kangen makanan di indonesia. Mereka bahkan sepakat bahwa Bakso dan Mie Ayam adalah kata kata tabu yang tidak boleh diucapkan sembarangan. Ketika salah seorang tidak sengaja kelepasan bicara, pasti ada seseorang yang lain mengingatkan “Hus tidak sopan bilang gitu. Istighfar istighfar.”

Hidup didalam lingkungan mereka yang sebagian besar merasa homesick membuat saya otomatis merasa kan hal yang sama. Bahkan dahulu ketika pertama kali datang kesini saya sudah berfikir apakah saya melakukan sebuah kesalahan. Pada akhirnya saya bisa merasakan apa yang teman kolega saya di jogja yang kebanyakan anak rantau rasakan. Saya rindu rumah, saya rindu keluarga, saya rindu masakan rumah, saya ingin pulang.

You don’t realize how far away you are until there’s someone you want to be near.

Ketika saya masih kanak-kanak saya pernah menulis dalam buku pelajaran pada kolom cita-cita bahwa saya ingin jadi astronot dan pergi ke mars. Bukan hanya impian anak kecil saja, bahkan tidak sedikit ilmuwan yang mempunyai cita-cita sama seperti saya, ingin pergi ke mars. Hal itu membuat saya malu ketika saya mengatakan bahwa Saya ingin pulang. Bagaimana bisa saya mengatakan hal tersebut ketika banyak dari mereka yang menginginkan seperti saya di sini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s