Batasan sebuah bahasa

Pernah terfikir ga sih jika kita hidup pada dunia yang tidak memerlukan bahasa. Dunia dimana untuk berkomunikasi kita hanya perlu mentranfer fikiran dan memori kepada orang lain layaknya tokoh Profesor X dalam film X-Men. Dengan begitu  tidak akan ada lagi kesalah-pahaman dalam berucap, tidak ada lagi penjelasan panjang lebar dalam menyampaikan sesuatu, tidak ada lagi kebohongan. Semua orang di belahan dunia manapun dapat berkomunikasi tanpa batasan sebuah bahasa. Hal ini yang baru saja saya pahami beberapa waktu yang lalu.

https://i2.wp.com/img.cinemablend.com/cb/a/2/2/8/4/6/a228464cfba5ea2e9c85ef75ba4207a4e2ebf01eab442ce2797c696649ced469.jpg

Empat bulan yang lalu saya dapat tawaran dari dosen untuk studi exchange satu semester ke universitas yang cukup besar di negara Malaysia, UUM (Universiti Utara Malaysia). Tentu saya sangat bersemangat selain bisa dapat pengalaman dan Akomodasi uang kuliah, Malaysia juga merupakan negara yang menggunakan bahasa melayu. Ah melayu doang sih masih mirip sama bahasa Indonesia, gampang lah nanti disana pikir saya. Sebelum berangkat saya juga menelpon kakak karena dia yang membiayai kuliah saya, “Yakin gol kamu mau kesana? kamu bisa bahasa disana?”. “Melayu doang sih masih mirip lah sama bahasa Indonesia, gampang mas nanti disana” . Tidak hanya kakak saya, Sepupu saya juga membahas hal yang sama. “Gil, latihan bahasa melayu dulu sebelum berangkat”. “Yaelah melayu doang.. masih mirip lah sama bahasa Indonesia, gampangg nanti disana”..

Sifat saya yang sering menyepelekan sesuatu itu pada akhirnya akan berimbas pada diri saya. Beberapa hari kemudian saya akhirnya tiba di negara tujuan. Hari itu sudah terlalu larut ketika kami rombongan dari indonesia menginjakkan kaki di bumi Kedah, Malaysia. Kami bergegas menuju Bus yang telah disiapkan oleh pihak UUM untuk mengantar kami beristirahat di Inapan siswa. Hal pertama yang saya amati adalah tampilan bus itu sangatlah normal, seperti kebanyakan bus pada umumnya. Setirnya yang bulat menghiasi bagian kanan depan bus kami. Ketika bus mulai melaju saya kembali mengamati pemandangan diluar dari balik jendela. Lampu jalan yang merengkuh redup beggitu hangat. Jalanan beraspal itu membuat laju bus semakin kencang. Sesekali bus kami berhenti ketika lampu lalu lintas memancarkan warna merahnya dari kajuhan. Saya pun tersenyum. Tuh kann benerr.. masih mirip indonesia.

https://tegarerputra.files.wordpress.com/2017/04/c3d21-cimg3842.jpg?w=892&h=669

Hingga akhirnya bus kami berhenti di suatu daerah yang menurut informasi yang saya dapat daerah ini merupakan peradaban terakhir sebelum kami memasuki wilayah UUM. Daerah itu bernama canglun, yang kemudian kami menyebutnya kecamatan canglun karena kotanya yang sangat kecil seperti kecamatan tetapi menyediakan berbagai macam kebutuhan yang kami butuhkan. Disaat teman saya yang lain mencari Sim-card lokal supaya bisa menghubungi keluarga di rumah, saya lebih memilih untuk mencari sesuatu untuk dimakan.

Bersama dua teman saya yang juga tidak tertarik dengan sim-card yang menurut kami harganya tidak masuk akal itu menuju ke sebuah kedai makanan. Saya kemudian memesan ayam goreng plus nasi, sedangkan dua teman saya memesan nasi goreng. Sampai sini segalanya masih normal. Ketika kami ditanya tentang minuman seketika ada seperti perasaan berdebar entah darimana muncul dalam diri saya. Kedua teman saya sudah memesan ice tea. Ok mereka memesan ice tea, kalau begitu saya pesan sesuatu yang normal seperti mereka. “Saya pesan es jeruk saja”. Ada jeda beberapa detik antara saya dengan si penjual sebelum akhirnya dia melongo kebingungan. Saya menatap kedua teman saya “Ga ada yang salah kan dengan muka saya?”. Mereka berdua menggeleng. Saya kembali menatap si penjual “Iya mak cik es jeruk, eess jeeruuk, J.E.R.U.K jeeruuk”. Si penjual masih bingung. Saya sempat berfikir oh berarti di malaysia memang gak ada es jeruk nih, kan beda budaya, goblok banget sih saya. Kemudia salah satu teman saya berceletuk “Oren Juice mak cik?”. Raut wajah mak cik tadi seketika berubah, seperti ada lampu bohlam menyala di atas kepalanya. Saya bisa mendengar kata Ooooh dilafalkan begitu panjang. “Kamu nak pesan Oren Jus ka?” Giliran saya yang melongo kebingungan. Pikiran saya sudah melayang entah kemana. Siapa saya sebenarnya, mengapa saya ada di sini, siapa sebenarnya suami jesica iskandar, entahlah. Si mak cik tadi memberikan satu bungkusan tas kresek berisi dua bungkus es teh sama satu bungkus es jeruk sambil mengatakan “Nanti Makanannya saya nak hantar ke tempat kalian”. Setelah memberikan beberapa lembar uang ringgit ke mak cik tadi, kami kemudian mencari tempat duduk.

Saya yang masih shock terduduk di sebuah meja bundar di deretan food court di pinggir jalan. Lalu lalang kendaraan dan celotehan kedua teman saya tadi ibarat sebuah dengungan yang lama-lama memudar kemudian mengambang di udara malam. Apa yang saya alami barusan benar-benar sesuatu yang sangat hebat. Teman yang baru saja saya kenal ternyata bisa marapalkan mantra sihir yang luar biasa. Entah mengapa saya tidak pernah tefikir sampai menggunakan bahasa inggris untuk mengartikan bahasa yang sudah biasa saya gunakan. Bagaimana mungkin orang malaysia tidak mengenal jeruk yang dulu setiap kali saya menonton televisi selalu muncul iklannya artis cilik Joshua Suherman dengan tagline Jeruk Kok Minum Jeruk. Andai saja saya memiliki kemampuan profesor X, saya pasti akan mengirim sebuah gambaran kepada mak cik tadi sebuah gelas yang berisi air dengan gula, kemudian buah berbentuk bulat itu dipotong jadi dua dan airnya di peras dimasukkan kedalam gelas berisi air gula tadi dan diaduk kemudian dimasukkan beberapa pecahan es batu hanya untuk memberi tahu bahwa es jeruk yang saya maksud itu sama denga oren jus yang mak cik punya.

Tidak lama setelah itu makanan yang kami pesan pun datang. Mak cik tadi membagi makanan yang dibungkus styrofoam kepada kami. Saya membuka bungkusan styrofiam itu, tetapi ada yang aneh  disana. Saya memanggil mak cik tadi “Mak cik ada sendok tidak?”. “Sendok??” mak cik melongo kebingungan. Saya juga ikut melongo.

NOTE: Sudah hampir dua bulan saya hidup disini. Akhirnya saya baru paham betapa mirip namun berbeda bahasa yang orang malay dan orang indo gunakan. Ada sebuah kisah konyol dari seorang sahabat saya disini. Sewaktu dia masuk kelas untuk pertama kali, dia ditanya oleh teman sekelasnya “Kamu duduk dekat mana pascal?”. Tanpa ragu dia menjawab “Saya duduk disini saja kak”. Temannya tadi melongo kebingungan. Terakhir baru diketahui bahwa kamu duduk dekat mana berartian kamu tinggal dimana. Dan saya hanya bisa tertawa mendengar cerita bodoh sahabat saya itu.

Baru juga saya menemukan sebuah website yang menunjukkan beberapa kemiripan tapi tak serupa antara bahasa indonesia dengan malaysia yang membuat saya tercengang. bisa klik DI SINI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s