Hai Iblis Kecil [part 1]

Mimpi..
Memikirkannya saja sudah membuatku malu. Aku bahkan merasa tidak layak lagi mempunyai mimpi. Sudah lama aku menguburnya dalam-dalam entah dimana aku sudah lupa.
Tunggu dulu. Apa ini. Sekejap ada sekelebatan cahaya di dalam benak ketika aku memejamkan mata. Tangan mungil itu menggenggam ibu jari ku. Siapa dia? Aku membalas genggamannya. Lembut. Seolah dia menyalurkan energi aneh ketika aku menggengam tanganya. Aku ingat sekarang. Ingatan yang seharusnya tidak kulupakan. Awal kisah ketika aku mengubur semua mimpi-mimpi itu.

Aku tidak pernah bermimpi memiliki seorang adik dalam hidupku. Menurutku adik hanyalah penganggu. Iblis kecil yang yang dikirim tuhan untuk mencuri perhatian lebih dari ayah-ibu. Dan akhirnya aku ibarat mainan berdebu yang berharap pemiliknya sudi memainkannya kembali.
Aku sudah bahagia hidup sebagai satu-satunya anak di keluarga kecil ini tanpa seorang adik. Aku punya banyak teman di sekolah yang kadang mampir ke rumah untuk sekedar menyicip masakan ibu yang konon katanya paling enak sedunia menurut versi mereka. Malam harinya ayah suka bercerita tentang legenda runtuhnya peradaban dinosaurus di bumi. Dengan bersemangat layaknya seorang pendongen ulung dia bercerita bahwa setelah jatuhnya meteor yang menyebabkan kepunahan dinosaurus bumi diselimuti awan gelap. Tidak ada lagi kehidupan selain jamur, karena hanya bangsa fungilah yang bisa hidup tanpa sinar matahari.
“berarti nenek moyang kita dari spesies fungi yah?” tanyaku pada suatu malam. Jawaban ayahlah yang selanjutnya mengubah sudut pandangku melihat dunia dan membuatku sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ayah mengatakan padaku bahwa manusia sebenarnya bukan mahluk bumi. Ada suatu dimensi yang jauh tempat dimana manusia pertama diciptakan. Tempat itu kini lebih kita kenal dengan sebutan surga. Kemudian ada alasan tertentu hingga manusia akhirnya tiba di bumi yang kala itu telah kaya akan flora dan fauna.
Aku sangat menikmati gaya mendongeng ayah terlepas itu sebuah bualan atau bukan. Pada intinya aku tidak akan pernah kesepian dan selama empat belas tahun terakhir ini aku tidak mempunyai masalah dengan semua ini. Hingga suatu malam aku terbangun dari tidur. Suara ketukan pintu masih terdengar nyaring. Aku melirik kearah jam dinding kamar, sekarang pukul 02.14 pagi, masih terlalu pagi untuk dibangunkan sarapan.
“Adam, bangun nak,” suara ketukan pintu makin keras terdengar.
Aku melangkah gontai menuju pintu, “iya, sebentar.” Sosok itu berdiri di depan pintu begitu pintu kamar kubuka. Rambutnya masih acak-acakan. Tampaknya dia juga buru-buru terbangun, entah karena apa. “Ada apa yah?” Aku penasaran apa yang membuat ayah membangunkanku malam-malam begini. Belum pernah aku melihat raut mukanya sepanik ini.
Ayah tersenyum kepadaku. Aku bisa melihat binar di kedua matanya meski dalam cahaya lampu yang redup. “Kamu akan jadi kakak mulai sekarang,” ayah menepuk bahu ku, “ibumu akan melahirkan malam ini. Ayah sudah meminjam mobil dari tetangga.” Suara ayah terdengar bagaikan petir yang tiba-tiba menyambar di kepalaku. Aku sudah tidak heran mendengar hal ini, melihat perut ibu yang semakin hari semakin membesar. Tetapi tetap saja aku terkejut. Apa yang aku takutkan beberapa bulan ini menjadi kenyataan malam ini.
“cepat kamu bergegas kedepan, kalau mobilnya sudah datang suruh tunggu sebentar, ayah akan membawa ibumu kedepan.” Setelah memastikan aku mengangguk pelan, ayah langsung bergegas menuju kamar ibu. Akupun berlari ke depan begitu mendengar suara mobil memasuki halaman rumah.
Orang yang turun dari mobil itu terlihat sudah sangat tua. Mobil yang dikendarainya juga bisa dikategorikan mobil antik, namun masih terawat dengan baik. Aku salut dengan usia segitu dia masih sanggup mengendarai mobil butut di malam yang terlewat larut begini. “rumah kakek dimana?” aku mencoba berbasa-basi dengan orang itu.
Kakek itu hanya terkekeh geli, “khekhekhe… aku ini tidak punya rumah nak, cuma mobil ini yang kakek punya,” dia menjawab tanpa menoleh kearahku, pandangannya seperti kosong menatap lurus kedepan. “kamu sekolah nak?” tiba-tiba dia bertanya kepadaku setelah ada jeda hening beberapa saat.
“iya.” Jawabku singkat.
“bagus lah kalau begitu, jangan sampai kamu putus sekolah ya nak.” Kakek itu berkata kepadaku dan lagi-lagi pandangannya hanya lurus kedepan tanpa menoleh kearahku. Tidak lama setelahnya ayah keluar dari rumah menuntun ibu yang memakai daster bermotif bunga lily berwarna kuning, terlihat menyala di malam hari. Napasnya beradu dan sesekali dia mengernyitkan wajah. Dari kejauhan aku bisa merasakan betapa ibu sangat kesakitan. Aku tidak tega melihatnya. Buru-buru aku menggantikan ayah menuntun ibu masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan semua pintu rumah terkunci rapat, ayah segera menuju ke mobil.
“Waduh maaf nih jadi ngrepotin om wijaya, Biar saya saja yang menyetir om” ayah menawarkan diri kepada kakek itu.
“Tidak usah, lha wong aku ini walaupun sudah tua tapi aku masih bisa ngebut kok, tenang,” dibarengi dengan kekehan geli khas kakek itu dia menolak tawaran ayah. “kamu duduk di belakang saja nemenin istrimu. Istrimu itu lagi butuh suaminya.”
Karena ayah duduk di belakang, mau tidak mau aku yang harus duduk di depan bersama kakek yang sepertinya agak kurang waras ini. Aku sedikit tidak yakin jika harus menyerahkan nyawa satu keluargaku kepada kakek ini. Walaupun masih terlihat sehat, yang namanya orang sudah usia lanjut pasti memiliki kekurangan didalam dirinya. Entah itu ingatanya yang menurun atau dari sisi pendengarannya atau yang lebih kucurigai dari tadi adalah kemampuan pengelihatannya. Aku heran bagaimana caranya dia membawa mobil nya sampai kerumahku, tapi aku yakin ada yang tidak beres dengan kemampuan pengelihatannya.
Selama perjalanan aku terus mengawasi kakek itu. Aku terkejut begitu kami sampai di rumah sakit dengan selamat. Tuduhanku tentang kemampuan penglihatannya yang tidak beres perlahan hilang. Oke kakek ini normal dalam artian jika predikat ‘sopir ugal-ugalan tertua di muka bumi’ dihilangkan dari daftar, batinku. Setelah menurunkan kami kakek itu pergi dengan mobil antiknya itu.
Selama proses persalinan ibu berlangsung yang kulakukan hanya bengong di ruang tunggu sambil sesekali ketiduran dan kemudian terbangun kembali melihat ayah yang keluar masuk ruang ruang bersalin. “ada apa yah?” tanyaku penasaran.
“ayah ga tega melihat ibumu” raut muka ayah kini tampak pucat, terlihat butiran keringat menghiasi dahinya. Ayah memang selalu begitu, dia selalu panik sendiri jika ada sesuatu diluar kendalinya, apalagi kalau melihat orang yang dia sayangi kesakitan dan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi dibalik itu semua, dia orang yang bertanggung jawab dan sangat menyayangi keluarganya. Buktinya setelah mengatur napas sebentar, ayah kembali masuk kedalam.
Tepat setelah adzan subuh selesai berkumandang, ayah, untuk kesekian kalinya keluar dari ruang bersalin. Tetapi kali ini ada yang berbeda dari raut mukanya, sangat kontras jika dibandingkan dengan beberapa ekspresi sebelumnya. Aku bisa tahu jika ini kali terakhir dia melakukan hal aneh keluar masuk ruang bersalin. Terdengar suara tangisan bayi ketika ayah membuka pintu. Ayah merekahkan senyum paling bahagianya kemudian menghambur kearahku, memelukku sekuat tenaga. Seperti terkena sihir dari pelukan penuh arti itu, air mataku ikut menetes.
Aku tidak mengerti maksud air mataku sendiri. Semua begitu kompleks. Aku merasa bahagia karena ayah-ibu juga pasti bahagia. Tapi disisi lain aku merasa takut. Takut dengan apa yang akan terjadi setelah malam ini. Semua tidak akan lagi sama. Ayah melepaskan pelukannya. “Adam, karena hari ini spesial kamu ga usah masuk sekolah dulu ya nak, bantuin ayah ngurus administrasi rumah sakit sama berkas-berkas lain. Nanti ayah buatkan surat ijin untuk gurumu.”
Seperti yang ayah katakan, hari ini memang spesial. Sayangnya persepsi spesial menurut ayah dan aku berbeda kali ini. Pagi ini seharusnya ada seleksi olimpiade fisika di sekolah. aku telah menunggu hari ini tiba karena aku sudah mempersiapkannya dari setahun yang lalu. Dan aku tidak heran jika ayah sampai tidak ingat bahwa pada hari ini di tanggal yang sama lima belas tahun yang lalu anak pertamanya juga lahir di dunia. Entah hal luar biasa apa lagi yang akan terjadi setelah iblis kecil ini dilahirkan. [to be continued]
….
note: fyuhhh.. entah habis kesetanan apa, tiba tiba malam tahun baru saya membatalkan semua janji sama teman dan malah keasyikan menulis. rasanya sudah lama sekali meninggalkan dunia yang dulu sangat saya gemari ini. semoga ini menjadi comeback yang positif di tahun 2016. selamat tahun baru yayy 😀
oh iya, karena efek dari kesetanan tadi membuat tulisan kali ini jadi panjang, akhirnya diputuskan untuk membagi menjadi dua part (atau mungkin tiga) dan untuk part selanjutnya akan saya post beberapa hari kedepan. ditunggu ya ;D
terakhir, semoga tulisan ini dapat mengobati kerinduan temen temen sama cerita-cerita ga masuk akal saya. YEAHH AKHIRNYA SAYA COMEBACK GAESS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s