Trip to Hatyai

Terkadang saya berfikir untuk apa orang-orang melakukan traveling sampai meghabiskan dana yang tidak sedikit. Jujur saja, dunia programing yang hampir tiga tahun saya tekuni ini membuat saya terbiasa di depan laptop dan menyusun berbaris-baris kode yang membingungkan. Dengan hanya bermodal internet kencang kami para programer sudah mendapat kepuasan batin tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Hal ini yang membuat saya berfikir dua kali ketika ada teman yang mengajak saya untuk traveling.

“Dab, apa tujuan terbesarmu dalam hidup ini?” Malam itu sahabat Continue reading

Advertisements

Uzbek Roommate

Berlanjut dari tulisan saya sebelumnya berjudul ‘Batasan sebuah bahasa‘. Pada kesempatan ini saya akan bercerita tentang kehidupan saya setelah tiba di Inapan Siswa (Inasis) UUM untuk pertama kalinya.

Malam itu sudah  terlampau larut ketika saya tiba di bus stop inasis. Saya berpisah dengan teman rombongan saya dari UAD yang memiliki inasis yang berbeda. Sebelumnya saya sama sekali tidak memiliki gambaran tentang kamar yang akan saya tempati nanti apakah sendiri apa berdua bersama roommate. Tetapi kunci kamar bertuliskan TM 7D 215 sudah berada di genggaman. Jadi nanti jika begitu sampai kamar ternyata di dalam kamar ada monster sekalipun, saya bisa melempar kunci ini kearah monster itu sebagai senjata pamungkas (sama sekali gak berguna).

Dengan ditemani oleh seorang buddies* kami bergegas menuju ke kamar baru saya. Koper saya tarik melewati jalan masuk bertuliskan INASIS TM yang kemudian disambut dengan pemandangan bangunan berlantai 3 dan lampu-lampu penerang jalan yang menyapa redup juga minimarket kecil yang pada pintu depannya terdapat tanda yang bertuliskan closed. Continue reading